Senin, 08 Desember 2014

Ill Principe | Sang Penguasa

Il Principe (Sang Penguasa) adalah sebuah risalat politik oleh seorang pegawai negeri dan teoretikus politik Firenze Niccolò Machiavelli. Aslinya berjudul De Principatibus (Tentang Kekuasaan), ditulis pada 1513,[1] namun baru diterbitkan pada 1532, lima tahun setelah kematian Machiavelli. Tulisan ini adalah sebuah studi klasik tentang kekuasaan – bagaimana memperolehnya, memperluas, dan menggunakannya dengan hasil yang maksimal. Tulisan ini sebenarnya tidak mewakili karya-karyanya selama masa hidupnya, namun karya inilah yang paling diingat, dan yang menyebabkan lahirnya istilah "Machiavellis" yang digunakan secara luas sebagai istilah pejoratif.

Pandangan-pandangan yang diuraikan oleh Machiavelli dalam Sang Penguasa mungkin kedengarannya ekstrem. Namun, seluruh kehidupannya dihabiskannya di Firenze pada saat konflik politik yang berkelanjutan. Karenanya, nilai utama yang ditekankan Machiavelli adalah kebutuhan akan stabilitas dalam wilayah seorang pangeran/penguasa.
Teori-teori yang diungkapkan dalam Sang Penguasa seringkali dipuja sebagai metode-metode cerdik yang dapat digunakan oleh penguasa yang sedang mencari kekuasaan untuk memperoleh takhta, atau oleh seorang penguasa untuk mengukuhkan pemerintahannya. Menurut Machiavelli, kebaikan moral yang terbesar adalah sebuah negara, yang bajik (virtuous) dan stabil, dan tindakan-tindakan untuk melindungi negara, betapapun kejamnya, dapat dibenarkan. Yang sangat penting ialah bahwa ia melakukan segala sesuatu yang perlu untuk mempertahankan kekuasaannya; namun demikian, Machiavelli sangat menganjurkan bahwa terutama sekali, Sang Penguasa tidak boleh dibenci. Ia memberikan sebuah jawaban yang padat tentang apakah seorang penguasa harus ditakuti atau dan dicintai. Ia menyatakan, "…seorang penguasa yang bijaksana harus membangun kekuasaannya berdasarkan apa yang ia sendiri kuasanya dan bukan berdasarkan apa yang orang lain kuasai; ia harus berusaha agar ia tidak dibenci, seperti yang telah dicatat." Ia juga berkata "Yang terbaik ialah ditakuti dan dicintai; namun demikian, bila seseorang tidak dapat dua-duanya, lebih baik ditakuti daripada dicintai."


Selasa, 02 Desember 2014

Dibalik Frekuensi

Gelombang frekuensi merupakan salah satu sumber daya milik negara yang amat potensial. Namun, bagaimana jika frekuensi dikonglomerasi sejumlah orang?, Dan bagaimana jika frekuensi diperalat untuk kepentingan golongan tertentu?

Melalui kisah Luviana, jurnalis yang di-PHK secara sepihak oleh MetroTV, film berjudul “Di Balik Frekuensi” menguak kisah tentang eksploitasi frekuensi dan politisasi media di Indonesia. Tak hanya Luviana, Kisah Hari Suwandi, korban lumpur lapindo yang melakukan aksi jalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta juga diceritakan dalam film tersebut.

Intrik nakal yang terjadi antara dua televisi berita ternaman MetroTV dan TVOne, menjadi tokoh utama dalam film bergenre dokumenter ini. Ucu Agustin sebagai sutradara film ini berhasil memyampaikan  “kejahatan”  dari dua TV berita tersebut.

Berawal dari kasus Luviana dan beberapa temannya sesama jurnalis yang gajinya tidak dibayar selama beberapa bulan. Kemudian ia  menuntut dibuatnya serikat pekerja pers MetroTV untuk peningkatan kesejahteraan pegawai (jurnalis) di MentroTV. 

Namun usaha Luviana malah berbuntut panjang. Sebagai jurnalis Luviana di non-aktifkan bekerja selama beberapa bulan tanpa alasan yang jelas. Setelah mengajukan protes, ia malah dipindahkan ke bagian HRD.

Berbagai macam upaya ia lakukan untuk menuntu haknya. Ia mengadukan diri ke Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pers, Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Serikat Pekerja, dan lainnya. Walaupun ia berhasil menemui Surya Paloh, direktur utama MetroTV untuk mengadukan kasusnya. Namun, hal itu tidak mengubah apapun. Beberapa bulan kemudian ia menerima surat PHK dari MetroTV  

TVOne, sebagai saingan MetroTV pun tak mau melewatkan kasus Luviana sebagai “santapan besar” yang harus terus diberitakan. Berbagai macam sudut pandang berita tentang kasus Luviana terus mengalir. Perang politik antara Surya Paloh dan Abu Rizal Bakrie terlihat jelas melalui dua kisah dalam film ini.

Hari Suwandi yang melakukan aksi jalan kaki dari Porong, Sidoarjo ke Jakarta untuk menuntut ganti rugi bagi korban lumpur lapindo. Ia berniat menemui  Bakrie untuk menuntut ganti rugi. Namun, setelah ia sampai di Ibu kota perjuangannya sia-sia. Bakrie tidak menemuinya, tidak ada pihak yang dapat memberikan pertanggungjawabannya pada korban lumpur.  

Bahkan saat diwawancarai di TVOne  tiba-tiba Hari Suwandi menangis dan meminta maaf pada Bakrie Group dan seluruh keluarga besar Bakrie. Hal itu sangat mengejutkan seluruh warga Sidoarjo. Bagaimana bisa Hari Suwandi yang sudah rela menempuh satu bulan perjalanan dengan berjalan kaki, namun sesampainya di Jakarta ia malah meminta maaf pada Bakrie.

Kemudian, setelah pemberitaan TVOne yang menampilkan wawancara live Hari Suwandi, keberadaan Hari Seolah menghilang tidak ada yang mengetahuinya. Apakah ia masih hidup atau tidak.  

Hal yang sama dengan TVOne saat memberitakan Luviana juga terulang kembali. Kali ini giliran MetroTV yang terus mem-blowup berita tentang Hari Suwandi yang lagi-lagi dikaitkan dengan Bakrie sebagai biang keladi permasalahan ini. 

Persaingan antara dua stasiun TV ternama Indonesia ini pun terlihat jelas. Ditambah lagi dengan persaingan pemilik dua media tersebut yang akan beradu dalam satu panggung di tahun 2014. Film ini dapat menyadarkan kita sebagai penonton yang harus selektif dalam memilih tontonan dan jangan mudah terpengarug pada suatu pemberitaan.

Film ini cocok untuk ditonton semua kalangan, terutama bagi para pengamat media. Di Balik Frekuensi  juga menyajikan informasi tentang pertumbuhan media massa  beserta data-datanya diakhir tanyangan. 

Sinematografi  dalam film berdurasi 144 menit 27 detik ini juga memukau. Walaupun bergenre dokumenter film ini tidak membuat anda bosan saat menontonya, karena perpaduan kisah Luviana dan Hari Suwandi  digabung dengan alur yang menarik. 

Meskipun kisah Luviana dan Hari Suwandi merupakan kisah berbeda tanggal, tempat, dan waktu tetapi, tetap bisa bersinergi dengan baik. Sehingga, apa yang ingin disampaikan Ucu dan Ursula Tumiwa, sang produser dapat tersampaikan dengan baik pada para penontonnya

Senin, 10 November 2014

Televisi

Kalau hari ini kita berbicara tentang tayangan televisi, mungkin sudah terlalu banyak kritik tentangnya. Tapi toh hingga hari ini kita masih disuguhi dengan hal yang sama, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Televisi bukanlah sekedar ‘kotak ajaib’ yang menayangkan sinyal elektrik hingga membentuk rangkaian visual serta imaji. Secara fisik, Tv pun telah mengalami revolusi yang sedemikian rupa. Dari tabung elektronik hingga menjadi sesuatu yang bisa kita bilang total virtual.
Sedemikian pentingnyakah kita memiliki TV digital dengan layar datar LCD, LED, LSD, atau apapun itu? Sedemikian pentingnyakah kita menyaksikan tayangan televisi hingga benar-benar ‘mendekati aslinya’? mungkin tidak, tapi yang penting kita punya. Itu dulu saja.
Televisi, yang saat ini bisa kita saksikan dimana saja dan kapan saja itu sesungguhnya telah mencengkram keseharian kita sedemikian rupa. Kita akan menjadi sangat tertinggal bila sedikit saja luput darinya. Coba bayangkan, betapa anehnya bila sebuah keluarga tidak memiliki pesawat televisi?  Atau bila hanya memiliki satu belaka?
Bila kita bicara soal program tayangannya, maka kita akan berhadapan dengan ‘realitas’ baru diluar apa yang kita lihat di dunia yang lebih nyata. Kita tahu bahwa televisi memiliki kekuatan untuk membentuk sebuah citraan. Mengutip sebuah dialog dalam film Man of the Year yang diperankan oleh Robin William, salah satu tokohnya mengatakan; “I have this hate-love relationship with TV. On TV everything seems credible, while they’re not. The more you seem credible on TV, and then more incredible it is. So, if you want to be credible, you have to be on TV”.
Dan dunia kita adalah dunia televisi. Hidup kita adalah apa yang tiap hari diproyeksikan olehnya. Yang membosankan adalah; tiap kali kita mengkritiknya, mereka selalu memiliki jawaban yang sama. Kita, para pengkritik, akan selalu dituduhkan sebagai ‘para idealis yang tidak mengerti kebutuhan masyarakat’. Mereka selalu meyakini bahwa masyarakat butuh hiburan, setelah segala tekanan yang mereka hadapi seharian di tempat kerja.
Masyarakat sangat butuh informasi. Segala macam informasi. Penting atau tidaknya bukan soal. Namun, apapun yang ditayangkan oleh TV seolah-olah menjadi sesuatu yang amat penting. Seberapa pentingnya bagi kita untuk tahu siapa yang paling kuat antara Barrack Obama dengan John Mc Cain? Apakah sama pentingnya untuk tahu bahwa si artis ini-itu akan menjadi calon legislatif negeri ini?
Kita menelannya bulat-bulat. Kita menjadikannya seolah-olah hal tersebut adalah benar bagian penting dalam hidup kita. Kita harus tahu apa yang dilakukan oleh seorang selebritis ketika wajahnya berjerawat. Atau ternyata seorang superstar pun mau makan di warung tegal. Itu penting.
Sedikit banyak menantang tingkat kecerdasan kita. Seberapa bodohnyakah kita untuk terus menerus menalan apa yang yang ia sajikan? Atau menjadikan sebuah gossip perselingkuhan selebritis sebagai diskusi riuh yang maha penting?
Menuntut tanggung jawab moral terhadap institusi TV adalah hal yang mustahil. Mereka sedmikian tidak tersentuhnya hingga mungkin hanya tuhan yang bisa menghentikan mereka. Toh memiliki ide untuk merubuhkan tiang pemancar semua stasiun TV hanya akan menjadi komoditas menarik buat mereka sajikan.
Ya, kita dan kehidupan kita sampai yang terkecil adalah komoditas yang sangat menguntungkan. Mari kita lihat sejenak segala macam benda yang kita konsumsi saat ini, yang ada di rumah kita saat ini? Darimanakah kita mendapatkan informasi mengenainya? Atau, mengapa kita merasa harus menggunakan deterjen dan pasta gigi tertentu?
Penguasa juga masih menggunakan televisi sebagai media propaganda politik kekuasaan mereka. Mereka sangat sadar, bahwa televisi masih memegang peran utama dalam hal tersebut. Dulu saya pikir setelah Soeharto turun, akan ada sedikit perubahan dalam bentuk propaganda politik penguasa. Jelas saya salah besar. Beberapa waktu lampau, kita menyaksikan tayangan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional di stadion Gelora Bung Karno, dengan tampilan persis dengan apa pemerintah Soeharto pernah lakukan. Ribuan siswa dikerahkan untuk bernyanyi dan membentuk formasi wajah presiden.
Saat ini pun kita akan semakin sering menyaksikan iklan layanan masyarakat (oya?) dimana seorang menteri bersabda dengan gemuruhnya untuk membangkitkan semangat kaum muda dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda. Banal. Tolol.
Namun apa yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya? Ini mungkin hal yang sulit untuk dilakukan. Adakah ruang bagi kita untuk bisa beraktivitas tanpa harus mengkonsumsi ketika ruang publik menjadi sesuatu yang teramat mahal di negri ini? Apakah ada kesempatan bagi kita untuk bisa tenang berkreasi, berdialog, beraktivitas seni, tanpa harus takut atau direpotkan dengan segala aturan pemerintah yang sedemikian paranoidnya? Jawabannya jelas tidak.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa Indonesia menjadi bangsa yang paling buruk budaya membacanya diantara negara asia tenggara. Tentu itu bukan hal yang mengejutkan sama sekali. Dan tampaknya kita tidak perlu malu dengan hal itu. Malu bukanlah hal yang lazim di negeri elok ini.
Bagi para orangtua, TV mungkin satu-satunya pengganti ideal bagi ketidakhadiran mereka di rumah untuk anak mereka. Bagi kebanyakan kita, mungkin TV adalah sang juru selamat. Bagi mereka yang mengelolanya, mungkin TV adalah tuhannya dan mereka adalah para nabi-nabinya.
Beberapa waktu lalu kita sering mendengar betapa perfilman Indonesia dikuasai oleh film jenis horror yang begitu menyebalkan, dan saking menyebalkannya maka jadi menyeramkan kehadirannya. Bagi saya, tayangan TV kita adalah horror sesungguhnya dan kita menyaksikannya hampir 24 jam selama 7 hari penuh.
Benarkah kita dapat mengintervensinya semudah menjentikkan jari pada tombol remote TV? Mungkin kasus pemadaman listrik yang menimpa kita belakangan ini menjadi lebih bermakna bila kita lihat dari sudut pandang lain. Membuat kita sedikit menghargai diri kita sendiri.

Rabu, 17 September 2014

Mereka Bilang Aku Kafir

Sebuah novel yang diluncurkan pada saat yang tepat. Saat media marak memberitakan tentang jamaah-jamaah yang mengajarkan aliran yang dianggap sesat, saat masyarakat resah dan merasa terganggu dengan keberadaan mereka, saat itulah novel ini dilempar ke pasaran.

"Mereka Bilang Aku Kafir, novel pertobatan seorang anggota aliran sesat" ditulis oleh Muhammad Idris, diterbitkan oleh Hikmah, Oktober 2007, 237 halaman. Sebuah novel yang berdasarkan pengalaman pribadi penulis, yang mengisahkan tentang bagaimana seorang alumni pesantren bisa terjebak dengan fanatisme buta di dalam sebuah organisasi yang mengajarkan agama yang menyimpang dari akarnya.

Tersesat dalam Pencarian Diri

Idris baru saja lulus dari pondok pesantren, ia kembali ke rumahnya di Jakarta dengan harapan selanjutnya akan melanjutkan ke bangku kuliah. Di masjid dekat rumahnya ia berkenalan dengan Pak Hanafi, seseorang yang berpenampilan sangat kharismatik. Pak Hanafi mengajak Idris untuk mengikuti sebuah pengajian di rumahnya yang bisa memahami Al-Qur'an hanya dalam waktu seminggu. Idris yang masih sangat haus akan ilmu agama langsung menerimanya.

Dengan cara yang sangat halus, ternyata Pak Hanafi mengajak Idris untuk mengikuti sebuah organisasi yang menganut pemahaman agama Islam yang berbeda dari Islam yang dipahami umum. Perlahan lahan Idris mulai terjerat dalam jaringan jamaah yang bertujuan mendirikan negara RII yang sepenuhnya berdasarkan syariah Islam. Kelompok itu sendiri menyebut dirinya sebagai KR-9 (Kelompok Regional 9).

Idris kemudian mengikuti semacam training yang mendalami ajaran-ajaran yang diyakini dan dijalankan oleh jamaah tersebut. Dalam training juga diajarkan trik-trik bagaimana mengajak orang lain untuk bergabung. Dengan cara yang sangat sistematis, anggota-anggota baru dicuci otak dan menjadi semakin fanatik terhadap organisasi ini. Mereka diminta untuk merekrut sebanyak mungkin orang, dan juga menyumbang sebanyak mungkin harta untuk kepentingan KR-9

Selanjutnya aktivitas Idris sehari2 sepenuhnya untuk KR-9. Hingga kemudian Idris bahkan ditawari untuk menjadi guru di pesantren modern Al-Jannah milik KR-9. Ia pindah dari Jakarta untuk menetap di Al-Jannah dan melupakan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah.

Idris tampaknya sudah mantap menggantungkan hidupnya demi KR-9. Meskipun di Al Jannah ia hidup sangat sederhana di antara bangunan pondok yang sangat megah. Bahkan akhirnya ia menikah dengan salah seorang guru wanita sesama pengikut KR-9 di Al-Jannah.

Titik balik mulai terjadi ketika Idris memiliki bayi kecil yang harus tinggal dalam lingkungan Al-Jannah. Hati Idris pun mulai terbuka dan memberontak. Sebuah kesempatan akhirnya terbuka bagi Idris dan anak istrinya untuk keluar dari Al-Jannah dan memulai sebuah hidup yang sama sekali baru.

Dituding Kafir

Sebuah perjalanan hidup yang sangat menarik untuk diikuti sebagai sebuah pelajaran bagi semua orang agar tidak mudah terjebak dalam sebuah ajaran yang menyesatkan. Mereka yang mengajarkan hal-hal semacam itu kebanyakan telah memahami psikologi manusia dan sangat lihai dalam mempengaruhi orang membuat mereka percaya akan suatu ajaran baru. Segalanya telah disiapkan dengan rapi untuk membuat setiap orang mudah terjebak.

Idris dalam hal ini terjebak dengan tudingan "kafir" yang dialamatkan padanya oleh Pak Hanafi dan teman2nya. Tudingan "kafir" membuatnya memberontak. Tapi jebakan telah disiapkan, semakin ia memberontak semakin erat ia terjerat. Dan ketika Idris akhirnya tak berdaya lagi untuk memberontak, ia menyatakan bersedia ikut menjalani apa yang diyakini Pak Hanafi. Ajaran dan aturan dari organisasi KR-9 telah menjadi sebuah dogma agama yang baru bagi Idris. Dan agama bagi Idris adalah segala-galanya yang harus ia perjuangkan sampai mati. Para perancang ajaran KR-9 sangat memahami hal itu dan memanfaatkannya.

Fanatisme buta juga dijadikan alat dalam menjaga anggota jamaah ini untuk tetap taat terhadap ajaran KR-9. Mereka selalu mengucapkan "Sami'na wa atha'na" setiap kali mendapat perintah. Saya mendengar dan saya taat. Betapapun sebenarnya mereka tidak bisa menerima perintah itu karena tidak wajar. Itu yang diajarkan, dan membangkang berarti kafir...

Serigala Berkedok Agama

Entah apa tujuan orang-orang yang membangun organisasi yang mengajarkan tuntunan hidup yang menyimpang dari ajaran agama yang ada. Kebanyakan tampaknya adalah bertujuan untuk kepentingan dirinya sendiri. Memanfaatkan orang lain yang sudah tercocok hidungnya.

Beberapa mungkin memang sangat idealis dan meyakini kebenaran penafsiran barunya terhadap ajaran agama yang ada. Beberapa hanya ingin membuat ajaran agama yang lebih ringan tanpa banyak ritual dan larangan. Beberapa lagi mungkin ingin menunjukkan eksistensi diri agar menjadi pemimpin dengan banyak penganut setia. Tapi beberapa lagi yang lain ternyata ada yang bertujuan memperkaya diri sendiri dari sumbangan para pengikut.

Dan mengemas semua itu dalam kedok ajaran agama adalah sebuah kelicikan yang sangat cerdas. Orang Indonesia yang rata2 masih taat kepada agama, seringkali menjadi mangsa empuk bagi mereka. Bukan hanya mereka yang tidak begitu paham tentang agama, tapi bahkan lulusan pesantren seperti Idris ini bisa dijerat.

Berani Membuka Aib Masa Lalu

Buku ini lumayan enak dibaca. Memberikan banyak pemahaman kepada pembaca, bagaimana seseorang bisa sampai terjerat dalam ajaran yang menyimpang. Mungkin bisa juga menjadi bekal bagi semua orang agar tidak mengulangi kesalahan serupa yang telah dilakukan Idris.

Buku ini membahas semua aspek kehidupan tokoh Idris. Mungkin juga sebetulnya ini adalah memoar dari kehidupan Idris yang kemudian dikembangkan sedemikian rupa hingga menjadi novel. Tapi buku ini bukanlah investigasi lengkap tentang kehidupan organisasi menyimpang tersebut, karena di dalamnya banyak cerita keseharian Idris selama di Al-Jannah.

Meskipun semua nama tokoh, organisasi, waktu dan tempatnya telah disamarkan dari kisah aslinya, tetapi keberanian Muhammad Idris untuk mengungkapkannya kepada publik sungguh sebuah keberanian yang patut diacungi jempol. Idris harus mengorek-orek luka lama dan membuka aibnya untuk menulis buku ini, dan itu pasti tidak mudah. Apalagi saat ini Idris harus kembali memulai hidupnya dari nol, karena sekian tahun dari usianya telah terbuang untuk mengabdi kepada organisasi sesat tersebut.

Tapi tentunya itu bukanlah sebuah kesia-siaan, karena dengan demikian Idris bisa bercerita kepada banyak orang untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Sabtu, 06 September 2014

Awas Jangan Standar Ganda



Salah satu contoh standard ganda

Menurut Wikipedia, Kemunafikan (Hypocrisy) adalah perilaku mengakui/menganggap memiliki keyakinan, perasaan, moral atau nilai-nilai yang sebenarnya tidak dimiliki atau dipraktekkan. Menurut kamus Webster, Hypocrite adalah seseorang yang mengaku memiliki nilai-nilai, moral atau keyakinan, tetapi sebenarnya tidak punya dan tindakannya bertolak belakang dengan apa yang dinyatakan di publik dalam kehidupan prbadi, opini dan pernyataannya. Jadi ada perbedaan antara teori dan prakteknya. Membenarkan tindakan/perilaku seseorang sementara menyalahkan orang lain yang memiliki hak dan kedudukan yang sama juga termasuk dalam definisi Kemunafikan, namun ada istilah lain yang cocok untuk hal ini yaitu Standar Ganda (double standard). Konsep standar ganda telah diterapkan sejak tahun 1872 terhadap fakta struktur moral yang sering diterapkan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Penerapan Standar Ganda
Sampai saat ini, kita terbiasa menggunakan standar yang berbeda dalam menilai perbuatan pihak yang satu dengan pihak yangsatunya . Seringkali kita menyalahkan pihak pertama atas suatu kesalahan, namun apabila pihak kedua yang melakukannya, kita akan menjadi sangat pemaaf. Terdapat suatu peribahasa orang jawa “wit gedhang uwohe pakel, ngomonge gampang nglakoni angel” . betapa mudah kita menyalahkan pihak pertama, atau memandang negatif perbuatan pihak pertama, atau memberikan penilaian jelek kepada pihak pertama. Tetapi memaafkan pihak kedua untuk kesalahan yang sama, ataupun yang lebih besar.

Kenapa Standar Ganda terjadi?
  1.  Adanya Propaganda untuk menjatuhkan pihak tertentuHal ini adalah salah satu faktor utama kenapa Standar Ganda sering terjadi di dunia ini. Kehausan akan kemenangan dengan menghalalkan segala cara membuat banyak praktisi politik dengan menerapkan strategi dan taktik untuk menjatuhkan lawannya dengan menebarkan isu-isu agar dapat menjatuhkan elektabilitas lawannya. Namun pada kenyataannya apabila terdapat teman satu partainya yang melakukannya. Maka dia akan diam. Terlebih lagi mencritakan tindakan tersebut sebagai suatu hal yang sangat positif.
  2. Saya selalu benar.  - Praktek standar ganda sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Hal ini sering diterapkan oleh orang yang lebih tua terhadap anggota yang masih muda dalam rumah tersebut. Hal2 ini sering diterapkan meskipun tidak secara sengaja.
  3. Nope. U always False - Ini adalah counterpart dari alasan nomor 2. Sering sekali kita jumpai standar ganda karena kita tidak menyukai seseorang. Sehingga kita sering menggunakan argumen2 argumentum ad hominem tipe 2 kepada orang2 tsb. Berbeda dari argumentum ad hominem Tipe I, ad hominem Tipe II menitikberatkan pada perhubungan antara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya. Pada umumnya ad hominem Tipe II menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi, sebagai contoh: suka-tidak suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

Contoh : berikut ini anekdot yang sering/pernah terjadi didalam kehidupan.

Standar Ganda antar kelompok : kelompok dalam hal ini dapat dikatakan sebagai ormas, parpol ataupun kelompok-kelompoklainnya. Sering kita kritik dan kita persoalkan perilaku dari kelompok lain karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Tapi apabila kelompok kita yang melakukan, kita diam dan memaafkan.
Salah satu standar ganda yang telah terjad adalah standar ganda dalam pembentukan opini yang dilakukan oleh ***payungan. Standar ganda tersebut adalah pemberitaan tentang Dirut PT KAI, Ignasius Jonan, yang tertangkap kamera saat tertidur lelap di kereta api ekonomi ketika perayaan lebaran lalu.Berita tersebut dianggap akal-akalan atau pencitraan semata oleh ***payungan, namun disaat yang lain ketika Gubernur Sumatra Utara, Gatot Pujo Nugroho, tertidur di Masjid saat i’tikaf bersama warga dicitrakan positif luar biasa. Hal ini terjadi diduga karena Jonan bukanlah kader atau pro partai tersebut sehingga harus dicitrakan negatif, sementara Gatot tentu saja pro partai tersebut karena beliau adalah kader partai tersebut, sehingga harus dicitrakan positif.

Standar Ganda dalam hubungan internasional : standar ganda ini sering dilakukan oleh negara negara adidaya terhadap negara-negara yang dianggap lemah. Mari kita renungkan, siapa yang diakatakan sebagai teroris dalam konflik antara israel dengan palestina? Siapa yang dikatakan teroris dalam invasi amerika di irak? Lantas, siapa yang sesungguhnya teroris dalam invasi amerika di afghanistan?

Standar Ganda dalam keluarga :
Terdapat satu keluarga, terdiri dari bapak, ibu, anak perempuan dan anak laki-laki. Suatu waktu bapak dan anak laki-laki sedang menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan ibu dan anak perempuan sedang mencuci piring di dapur. Kemudian terdengar bunyi piring pecah dari dapur. Setelah itu semuanya menjadi diam. Sang bapak kemudian berkata kepada anak laki-laki, “apakah kamu tahu siapa yang memecahkan piringnya?”. Anak laki-laki kemudian menjawab, “tidak, saya tidak tahu siapa yang memecahkan piringnya”. Sang bapak kemudian berkata lagi, “bagus karena itu dengarkan. Apabila ibumu yang memecahkannya, maka maafkanlah dia. Namun apabila yang memecahkan piringnya kamu atau kakak perempuanmu, maka mintalah ibumu untuk memaafkanmu sebagaimana kamu telah memaafkan ibumu ketika ibumu yang memecahkannya”

Konklusi?
Standar ganda adalah hal yang berbahaya apabila dilakukan. Hal ini akan mengundang dosa. Apalagi standar ganda adalah turunan dari sifat2 munafik. Dalam al-quran allah berfirman :
(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (١٤٥
Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (Q.s An-Nisaa:145)


oleh : Dimas Kurnia Arsy - 2013

Rabu, 03 September 2014

Degradasi Pergerakan Mahasiswa pada Era Reformasi

   Mahasiswa adalah manusia intelektual yang masih belajar tentang bagaimana caranya menjadi intelektual sesungguhnya. Intelektual disini mempunyai maksud yaitu cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan serta berwawasan luas. Seorang mahasiswa dapat dilihat intelektualitasnya berdasarkan sikap kritis dan bagaimana dia membuat gerakan yang terus mengkritisi lingkungan sekitarnya serta dapat memberikan solusi atas masalah tersebut. Jika kita lihat salah satu implementasi dari kekritisan mahasiswa yaitu adalah pergerakannya. Pergerakan ini biasa dilakukan sebagai follow up dari hasil kajian suatu masalah yang telah dikaji dan ditemukan solusinya.

    Kondisi dan pergerakan mahasiswa pada orde lama sangatlah hidup. Ini dikarenakan kondisi mahasiswa yang terpengaruh oleh dinamika politik yang ada pada jaman itu. Pada saat itu konisi pergejolakan politik sangatlah panas, dimana terjadi cinta segitiga antara Soekarno, Militer, dan PKI. Sikap kritis yang timbul pada mahasiswa juga dikarenakan kondisi masyarakat Indonesia yang pada saat itu sangat mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya dan adanya sikap kepemimpinan Soekarno yang diktator ini ditunjukkan dengan adanya implementasi sistem demokrasi terpimpin dan terciderainya demokrasi yang dijanjikan dengan diangkatnya Soekarno menjadi presiden seumur hidup oleh MPR.

Keresahan para mahasiswa pun mencapai puncaknya yaitu ketika terjadi insiden G30S/PKI pada tahun 1965 dimana satu kapten dan enam perwira tinggi militer Indonesia diculik dan dibunuh dalam percobaan kudeta yang dilakukan Partai Komunis Indonesia. Akhirnya para mahasiswa pun bergabung dan membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada 27 oktober 1965. KAMI terdiri dari gabungan beberapa organisasi mahasiswa yaitu HMI, GMNI, GMKI, GEMSOS, dan PEMKRI. Pada tahun 1966 Kami pun turun ke jalan dalam skala nasional dengan tiga tuntutan rakyat yang dikenal TRITURA yaitu pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet DWIKORA, serta turunkan harga dan perbaiki sandang – pangan. Pergerakan KAMI pun mencapai puncaknya dimana berhasil menurunkan rezim orde lama dan melahirkan rezim orde baru.

Kondisi dan pergerakan Mahasiswa pada orde baru bisa dibilang sangatlah sulit dan penuh tantangan ini dikarenakan rezim orde baru yang dipimpin Soeharto ternyata menganut teori kekuasaan Machiavelli dimana dalam mencapai sesuatu yang diinginkan dengan menghalalkan segala cara bahkan membunuh atau lebih singkatnya lagi politik hanya dilihat sebelah mata yaitu bagaimana berkuasa dan mempertahankannya. Saat orde baru kepemimpinan Soeharto menunjukkan kepemimpinan yang diktator, segala bentuk ancaman terhadap kepemimpinannya langsung ditiadakan. Saat inilah para mahasiswa mulai merasa geram dengan kepemimpinan soeharto yang terus menunjukkan kediktatoran dan banyak melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).

Keresahan para mahasiswa pun  sampailah pada puncaknya yang ditandai dengan peristiwa malari (Malapetaka lima belas januari) pada tahun 1974. Ini adalah perlawanan mahasiswa pertama pada rezim Soeharto dimana para mahasiswa merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah berkerjasama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional karena mereka menilai kerja sama ini tidak lagi berhaluan kepada pembangunan yang mementingkan rakyat. Pergerakan mahasiswa ini terus berlanjut sampai pada puncaknya pada tahun 1998 demonstrasi besar-besaran terjadi. Gedung DPR/MPR berhasil diduduki oleh para mahasiswa. Soeharto pun akhirnya menyatakan mengundurkan diri dan lahirlah era baru yang bernama reformasi.

Era Reformasi merupakan cita-cita rakyat Indonesia. Cita-cita untuk mendapatkan hak asasi manusia yaitu menyatakan pendapat, bebas mengeksplorasi segala ilmu pengetahuan yang ada, mendapatkan kehidupan yang adil dan makmur, dan dapat mengembalikan Indonesia menjadi sebuah negara oligarki bukan tirani.

    Kini Era Reformasi telah terbentuk tetapi sangat disayangkan jiwa pemuda-pemuda Indonesia khususnya mahasiswa bukan semakin mengalami kemajuan tapi mengalami kemunduran yang sangat pesat. Mahasiswa di era Reformasi semakin tidak peka terhadap lingkungan sekitar, cenderung apatis dan semakin menjadi manusia-manusia yang mengedepankan individualismenya bukan mengedepankan kebersamaan demi masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Mental para mahasiswa semakin lemah ini ditandai dengan timbulnya sifat pragmatis dan opportunis.

Mahasiswa seharusnya semakin menjaga idealisme dan independensinya, tetapi kini semua telah luntur dikarenakan sikap para mahasiswanya yang semakin opportunis. Jika kita lihat banyak organisasi-organisasi mahasiswa intra maupun ekstra yang tidak malu bahkan bangga mendapatkan sokongan dana dari partai politik. Organisasi-organisasi seperti ini terus menghalalkan segala acara untuk tetap mempertahankan eksistensi para penyokong dananya. Inilah sebetulnya salah satu sebab hilangnya idealis seorang mahasiswa yang seharusnya terus melakukan analisis dan terus mengkritisi setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

    Setiap tahun selalu muncul para mahasiswa baru yang tidak mendapatkan pencerdasan intelektual sehingga sikap dan sifat yang dibawa oleh mereka dari SMA tidak hilang bahkan menjadi mendarah daging. Inilah yang menyebabkan dari tahun ke tahun Mahasiswa semakin apatis. Mungkin ini juga salah satu dampak dari strategi sistem SKS (satuan kredit semester) dan tugas dari dosen yang menumpuk sehingga mengakibatkan para mahasiswa tidak mempunyai waktu untuk mengembangkan intelektualitas dan sikap kritisnya.

     sikap mahasiswa ini dapat menyebabkan bangsa kita mengalami keterpurukan dikarenakan tidak adanya Sumber Daya Manusia penerus yang mampu membuat pembaruan-pembaruan yang dibuat berdasarkan masalah yang terjadi pada masyarakat dengan menggunakan disiplin ilmu yang dipelajari. Sifat individualism ini juga dapat menyebabkan hilangnya rasa persatuan dan kesatuan serta semangat gotong royang dalam membangun Negara Republik Indonesia yang adil dan makmur.

    Oleh sebab itu Pada saat inilah diperlukan sebuah organisasi yang tetap menjaga independensinya bergerak dan menyelamatkan mereka dari lautan apatis dan strategi penanaman individualisme ini. Pada era ini  kita sebagai mahasiswa juga  harus memiliki sikap yang kritis, berani menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kita juga harus semakin membuka pikiran, wawasan, dan kepedulian terhadap sesama bukan menjadi manusia yang meninggikan Ego dalam dirinya serta keuntungannya sendiri. Jujur penulis kecewa dan sedih akan mahasiswa di jaman Reformasi ini.

Penulis merasa kita bagaikan bebas dan menamakannya reformasi tetapi ternyata hanyalah kesemuan harapan yang dapat ditemui. Bagi penulis jaman reformasi sama saja seperti gelas yang tidak memiliki lapisan yang kuat serta tidak berisi air-air yang bersih. Oleh sebab itu penulis mengajak para mahasiswa untuk meningkatkan semangat pergerakan, entah itu dari tulisan, forum diskusi, maupun demonstrasi tetapi tetap dengan tujuan mewujudkan cita-cita dari reformasi yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta terus mengawal dan menganalisi proses jalannya pemerintahan juga ikut turut serta membangun dan mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. “WAHAI PEMUDA BANGSA TETAPLAH MENJADI PEMUDA PENOPANG BANGSA. TETAPLAH MENJADI TIANG BAGI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA”.
 
Penulis : Putratama Geza Nur 'Adli 

Rabu, 02 Juli 2014

Meneropong Pemimpin Indonesia yang Ideal

Meneropong pemimpin indonesia yang ideal. Tentunya adalah dengan menemukan problem-problem yang ada di Indonesia hari ini. Dengan mengetahui problem yang ada di Indonesia, diharapkan kita dapat melihat pemimpin yang ideal untuk mengatasi problem indonesia dengan visi misi yang mereka bawa.


Dalam bahasan yang telah di bicarakan pada diskusi di komisariat pada 5 dan 12 juli 2014, kita telah membahas masalah2 sebagai berikut.
1.   Ketahanan pangan
2.   Pendidikan
3.   Moral, korupsi dan hukum
4.   Kestabilan ekonomi
5.   Martabat negara
6.   Kesenjangan sosial
Pertama
Dimulai dari ketahanan pangan, masalah indonesia dapat dibagi menjadi 3, produksi, distribusi serta konsumsi. Dalam produksi hal ini lebih banyak mencakup tentang permasalahan negara dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Baik itu secara kualitas, maupun kuantitas. Hal ini tentunya menyangkut masalah infrastruktur yang memadai dalam hal distribusi. Distribusi dari produksi ke konsumsi, maupun distribusi sumberdaya manusia untuk mengolah produksi pangan dalam negeri. Serta, permintaan konsumsi yang terlalu konsumtif dari warga kita sendiri.
Lebih dalam lagi, ketahanan pangan negara kita dipengaruhi oleh
1.   Lahan kurang
2.   Infrastruktur / teknologi pendukung -> kurang inovasi yang dapat meningkatkan ketahanan pangan kita
3.   PSDM -> kurangnya pembinaan dan penyuluhan kepada pelaku produksi sehingga produksi pangan kita kurang efsien
4.   Regulasi dari pemerintah yang menyudutkan petani lokal.


Kedua
Pendidikan, faktor dasar yang mempengaruhi maju tidaknya sebuah negara. Sebuah pondasi untuk memulai langkah-langkah berikutnya untuk melakukan pembangunan nasional.
Pendidikan ini dapat dibagi menjadi 3 hal besar. Tenaga pengajar, infrastruktur dan sistem.
Tenaga pengajar :
1.   Kapabilitas dan kualitas yang kurang sehingga sulit untuk menghasilkan generasi muda yang mumpuni untuk menghadapi perkembangan zaman.
2.   Kebutuhan hidup yang minim
3.   Pemerataan tenaga pengajar
Infrastruktur :
1.   Pemerataan APBD untuk pendidikan
2.   Fasilitas penunjang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi
3.   Pemusatan pendidikan di kota2 besar
Sistem :
1.   Tidak ada pendidikan karakter / leadership
2.   Sistem dan kurikulum yang tidak konsisten
3.   Sistem yang tidak fair
4.   Alur birokrasi yang dipersulit
5.   Kurangnya pengawasan


Ketiga
1.   Kurang pemahaman agama masing2 sehingga moral para petinggi negara ini kurang yang dapat menyebabkan korupsi dan penegakan hukum yang kurang
2.   Kurangnya pendidikan ortu terhadap generasi muda sehingga berkurangnya moralitas generasi muda kita. Pendidikan dari orang tua adalah pendidikan moral paling utama yang harus diberikan kepada seorang anak .
3.   Kurangnya pengawasan dan sistem yang mengikat. Berkaitan dengan transparansi keungan daerah kepada rakyatnya.
4.   Kurangnya integritas penegak hukum dan pembuatan kebijakan
5.   Hukum yang mencedrai keadilan
6.   Kurang kuatnya lembaga independen bidang penegakan hukum
7.   Kurangnya pendidikan hukum dimasyarakat
8.   Kurangnya pencerdasan dalam memanfaatkan teknologi
Keempat
Kestabilan ekonomi,
Dapat kita ketahui tingkat kestabilan ekonomi indonesia sedang tidak stabil akhir ini. Seperti dapat kita lihat akhir ini nilai tukar rupiah menurun sampai 13.000 per dolar.
Indonesia, sebuah negara industri yang sempat menjadi macan indonesia , namun akhir ini indonesia semakin digiring untuk menjadi negara perdagangan. Karena pada dasarnya indonesia adalah negara yang didesain oleh Allah swt untuk menjadi negara industri. Kenapa? Indonesia kaya SDA.
Indonesia perlu mengambil alih kedaulatan terhadap sumber2 SDA agar dapat mengolah serta menjalankan kegiatan ekonomi nasional.
Hingga masalah kurang siapnya SDM untuk mengolah SDA untuk menjalankan kegiatan ekonomi sosial.


Kelima
Negara berdaulat, harus bermartabat.
Kurangnya ketegasan dan kompetensi pemimpin. Dalam hal ini kurang responsivenya pemimpin terhadap permasalahan yang menyinggung kedaulatan dan martabat negara.
Minimnya prestasi internasional yang strategis , dalam hal ini negara dengan prestasi internasional yang tinggi akan semakin dihormati oleh negara lain. Tidak hanya pendidikan atau olahraga, namun prestasi dalam bidang ekonomi, politik, hingga pemikiran.
Banyaknya pelanggaran HAM terhadap TKI karena kurangnya perlindungan.
Ditinggalkan identitas dan karakter bagnsa dengan efek globalisasi , ini dikarenakan lebih tertariknya generasi muda terhadap asing. Bukan lokal,


Keenam
Persebaran APBD yang tidak merata
Penyerapan APBD yang krang , -> transparansi keuangan
Kurangnya pemerataan persebaran penduduk.